Header Ads

Jejak Batak dan Mandailing di Singapura: Dari Era Kerajaan hingga Konglomerat Modern

Sejarah mencatat bahwa jejak komunitas Batak dan Mandailing di Singapura telah terjalin sejak era kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara. Pada masa Kerajaan Aru, Samudera Pasai, dan ekspansi Kesultanan Aceh, wilayah yang kini dikenal sebagai Singapura telah menjadi pusat perdagangan strategis.

Orang Batak dan Mandailing (termasuk Karo, Pakpak, Simalungun), yang dikenal sebagai pelaut dan pedagang ulung, turut berlayar dan berdagang di perairan ini.

Ekspansi Kesultanan Aceh pada abad ke-16 dan 17 membawa pengaruh yang signifikan ke wilayah Selat Malaka, termasuk Singapura. Kerajaan Linge di Tanah Gayo diperkirakan masih berhubungan dengan Kerajaan Lingga Johor yang pernah mencakup Singapura. Lingga juga merupakan salah satu marga Batak Toba meski lebih dekat ke Karo dan Pakpak.

Orang-orang Mandailing, yang memiliki hubungan dekat dengan Kesultanan Aceh, turut berperan dalam aktivitas perdagangan dan politik di wilayah ini. Jejak-jejak mereka dapat ditemukan dalam catatan sejarah dan toponimi di sekitar Singapura.

Pada abad ke-19, ketika Singapura berada di bawah kekuasaan Inggris, migrasi orang Batak dan Mandailing semakin meningkat. Faktor ekonomi, pendidikan, dan sosial menjadi pendorong utama migrasi ini. Banyak dari mereka yang datang untuk mencari peluang kerja, melanjutkan pendidikan, atau mencari kehidupan yang lebih baik.

Salah satu tokoh Mandailing yang memiliki peran penting dalam sejarah wilayah ini adalah Sutan Puasa. Meskipun lebih dikenal karena perannya dalam pendirian Kuala Lumpur, Sutan Puasa juga memiliki jaringan perdagangan yang luas di wilayah Selat Malaka, termasuk Singapura. Ia menjadi contoh bagaimana orang Mandailing mampu membangun pengaruh dan kekayaan di perantauan.


Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bagaimana komunitas Batak di Singapura pada masa itu membentuk organisasi Saroha, dan juga bagaimana banyak orang batak mengidentifikasi diri sebagai orang melayu, untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini menunjukan bahwa komunitas Batak sudah sangat terakulturasi dengan budaya Singapura, dan beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Di era modern, jejak pengusaha Batak dan Mandailing di Singapura semakin terlihat.

Banyak dari mereka yang berhasil membangun bisnis sukses di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, perkapalan, hingga teknologi.

Salah satu contohnya adalah keberhasilan pengusaha Batak termasuk warga Sumatera Utara pada umumnya dalam ekspor sayuran dari ke Singapura. Mereka memanfaatkan jaringan dan pengetahuan lokal untuk memasok kebutuhan pasar Singapura, sekaligus memberdayakan petani di kampung halaman.

Selain itu, keluarga Maratua Sitorus atau Seeng Haap/Ahok yang dikenal sebagai konglomerat di Indonesia, juga memiliki kehadiran yang kuat di Singapura. Banyak anggota keluarganya yang memilih untuk bermukim di Singapura, menunjukkan bagaimana kota ini menjadi magnet bagi para pengusaha Batak.

Keberhasilan pengusaha Batak dan Mandailing di Singapura tidak terlepas dari keuletan, kemampuan beradaptasi, dan jaringan yang kuat. 

Mereka mampu memanfaatkan peluang yang ada, sekaligus menjaga hubungan baik dengan komunitas dan mitra bisnis mereka.

Namun, seperti halnya komunitas perantau lainnya, orang Batak yang lebih suka dianggap bagian dari masyarakat Melayu Singapura ini juga menghadapi tantangan dan persaingan yang ketat. Mereka harus terus berinovasi dan beradaptasi untuk mempertahankan eksistensi bisnis mereka di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

Kisah sukses pengusaha Batak dan Mandailing di Singapura menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani berwirausaha dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. Mereka juga menjadi jembatan budaya dan ekonomi antara Indonesia dan Singapura, mempererat hubungan kedua negara.

Sejarah panjang komunitas Batak dan Mandailing di Singapura menunjukkan bahwa mereka telah menjadi bagian integral dari perjalanan kota ini. Dari era kerajaan hingga era modern, mereka terus memberikan kontribusi dalam berbagai bidang, dan menjadi bukti bahwa keberagaman etnis dan budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang maju dan sejahtera.

Diberdayakan oleh Blogger.