Mengenal Kesultanan Shewa di Oromia, Ethiopia
Wilayah Oromia saat ini pada Abad Pertengahan bukan satu kesatuan politik Oromo seperti sekarang. Daerah itu terbagi antara kesultanan Islam, lokal, dan wilayah pastoral. Salah satu yang paling awal adalah Kesultanan Shewa (Makhzumi) yang berdiri sejak abad ke-9 hingga ke-13. Kesultanan ini berpusat di wilayah tengah Ethiopia, termasuk bagian yang sekarang masuk Oromia. Shewa adalah kerajaan Islam tertua di kawasan Ethiopia.
Setelah runtuhnya Kesultanan Shewa, muncul Kesultanan Ifat pada abad ke-13 hingga ke-15. Ifat adalah negara Islam kuat yang wilayahnya mencakup timur dan tengah Ethiopia, termasuk daerah Oromo bagian timur dan Shoa. Ifat menjadi pusat perdagangan dan dakwah Islam di Tanduk Afrika.
Penerus Ifat adalah Kesultanan Adal, yang jauh lebih terkenal. Adal mencapai puncaknya pada abad ke-16 di bawah Imam Ahmad bin Ibrahim al-Ghazi (Ahmad Gran). Wilayah Adal meliputi Harar, Bale, Arsi, dan wilayah timur Oromia sekarang. Dalam periode ini, banyak komunitas Oromo masuk Islam atau semakin terislamisasi.
Selain itu, ada Kesultanan Bale, sebuah entitas Islam lokal di wilayah selatan-tenggara Oromia. Bale memainkan peran penting sebagai penghubung antara pesisir Muslim dan pedalaman Ethiopia. Penduduk Bale—yang kemudian banyak menjadi bagian dari Oromo—telah mengenal Islam sejak awal.
Setelah jatuhnya Adal, pusat Islam politik bertahan dalam bentuk Emirat Harar, yang berdiri dari abad ke-16 sampai abad ke-19. Harar dikelilingi dan kemudian didominasi secara demografis oleh Oromo, khususnya klan Ala, Nole, dan Jarso. Emirat Harar menjadi pusat intelektual dan religius Islam bagi seluruh wilayah Oromo timur.
Hal penting: Islamisasi Oromo tidak hanya lewat negara, tetapi juga lewat jaringan ulama, pedagang, dan tarekat sufi. Banyak klan Oromo masuk Islam secara bertahap antara abad ke-16 hingga ke-19, terutama di Arsi, Bale, Hararghe, dan Wollo selatan.
Ketika Kekaisaran Ethiopia memperluas kekuasaan pada abad ke-19 di bawah Menelik II, wilayah-wilayah Muslim Oromo ditaklukkan, dan struktur politik Islam dibubarkan. Sejak itu, Islam bertahan sebagai identitas sosial dan religius, bukan negara.
Itulah sebabnya hari ini sekitar 40–50 persen Oromo beragama Islam, terutama di Oromia timur dan selatan. Itu bukan hasil Arabisasi modern, melainkan warisan kesultanan Islam dan jaringan dakwah berusia ratusan tahun.





Post a Comment